Sabtu, 16 Maret 2013
Ad-Darsul-Awwal (Pelajaran Pertama) Durusul Lughoh 1
Haadzaa Baytun (هذا بيت) Ini Rumah
Haadzaa Masjidun (هذا مسجد) Ini Masjid
Haadzaa Baabun (هذا باب) Ini Pintu
Haadzaa Kitaabun (هذا كتاب) Ini Buku
Haadzaa Qolamun (هذا قلم) Ini Pena
Haadzaa Miftaahun (هذا مفتاح) Ini Kunci
Haadzaa Maktabun (هذا مكتب) Ini Meja
Haadzaa Kursiyyun (هذا كرسي) Ini Kursi
Haadzaa Sariirun (هذا سرير) Ini Kasur
-----------------------
Apa Itu Haadzaa (هذا) ?
Haadzaa adalah salah satu isim isyarah (اسم الإشارة) yang artinya adalah "Ini"
Apa itu Isim Isyarah (اسم الإشارة)?
Isim Isyarah adalah kata tunjuk, yaitu kata untuk menunjuk sesuatu.
Haadzaa (هذا) termasuk kategori Isim Isyarah (اسم الإشارة) yang mana?
Haadzaa (هذا) adalah Isim Isyarah (اسم الإشارة) untuk:
1. Mufrod (مفرد) Tunggal
2. Mudzakkar (مذكر) Laki-laki
3. Qariib (قريب) Dekat
Maka jika anda bertemu dengan sesuatu yang laki-laki, satu jumlahnya, dan dekat dengan anda, dan anda ingin mengatakan "ini adalah sesuatu" maka katakan "Haadzaa..."
-------------------------
ما هذا؟)
(هذا بيت)
(أ هذا بيت؟)
(نعم، هذا بيت)
(ما هذا؟)
(هذا قميص)
(أ هذا سرير؟)
(لا، هذا كرسي)
(أ هذا مفتاح؟)
(لا، هذا قلم)
(ما هذا؟)
(هذا نجم)
------------------------------------------------------
Maa Haadzaa? Apa Ini?
Haadzaa Baytun Ini Rumah
A Haadzaa Baytun?Apakah ini rumah?
Na'am, Haadzaa Baytun Iya, ini rumah
Maa Haadzaa? Apa Ini?
Haadzaa Qamiishun Ini Kemeja
A Haadzaa Sariirun? Apakah ini kasur?
Laa, Haadzaa kursiyyun Tidak, Ini Kursi
A Haadzaa Miftaahun? Apakah ini kunci?
Laa, haadzaa qolamun Tidak, ini pena
Maa Haadzaa? Apa Ini?
Haadzaa Najmun Ini Bintang
----------------------------------------------------
Apa itu Maa ?
Maa adalah salah satu ismul istifham yang berarti "apa"
Apa itu isimul istifham ?
ismul istifham adalah kata tanya
Maa digunakan untuk menanyakan sesuatu yang ghoiru 'aaqil yang tidak berakal.
Apa itu A ?
A adalah salah satu ismul istifham yang berarti "apakah"
A digunakan dalam yes-no question.
------------------------------------------------------
Man Haadzaa? Siapa Ini?
Haadzaa Thobiibun Ini Dokter
Man Haadzaa? Siapa ini?
Haadzaa Waladun ini anak kecil
Man Haadzaa? Siapa ini?
Haadzaa Thoolibun ini pelajar
A Haadzaa Waladun? Apakah ini anak kecil?
Laa, haadzaa rajulun. Tidak, ini seorang laki-laki dewasa.
------------------------------------------------------
Apa itu man?
Man adalah salah satu ismul istifham yang berarti "siapa"
Man digunakan untuk menanyakan sesuatu yang 'aaqil, yang berakal.
-------------------------------------------------------
Daftar Kosakata di Pelajaran Kesatu:
Rumah = بيت = Baytun
Masjid =مسجد = Masjidun
Pintu = باب= Baabun
Buku =كتاب = Kitaabun
Pena =قلم = Qolamun
Kursi = كرسي= Kursiyyun
Kunci =مفتاح = Miftaahun
Meja =مكتب = Maktabun
Kasur =سرير = Sariirun
Kemeja =قميص = Qamiishun
Bintang =نجم = Najmun
Dokter = طبيب= Thobiibun
Anak Kecil =ولد = Waladun
Pelajar = طالب= Thoolibun
Laki-laki Dewasa =رجل = Rajulun
Pedagang =تاجر = Taajirun
Anjing =كلب = Kalbun
Kucing = قطّ= Qiththun
Keledai = حمار= Himaarun
Kuda =حصان = Hishoonun
Unta =جمل = Jamalun
Ayam Jantan =ديك = Diikun
Guru =مدرس = Mudarrisun
Sapu tangan =منديل = Mindiilun
Kamis, 28 Februari 2013
Terjemahan Tiap Kata Bacaan Shalat
Terjemahan
Tiap Kata Bacaan Shalat
Fotokopien rek gak opo, pokok ojok didol
Fotokopien rek gak opo, pokok ojok didol
1.
Takbir
اَللهُ
Allah
أَكْبَرُ
Mahabesar
Senin, 18 Februari 2013
My Writing..... *Facepalm*
Siang tadi di kelas, selagi bercanda dengan teman-teman, tiba-tiba Bana, duduk di depanku, "Bas, ada baskoro aris sansoko dot blogspot dot com". Aku mendengarnya tertawa, "itu blogku waktu SD Ban, haha," Bana kemudian bilang kalau aku nyangar udah SD sudah main blog, dia belum tahu kalau ada temanku dari SD udah main-main di forum bahasa inggris. --a
"Pinjem Tabmu Bas," kata Bana, aku memberikan tab yang sedang aku pegang. "Ada apa Ban?" Tanyaku, dia pergi ke sisi lain kelasku, dan aku terus melanjutkan ngobrol bersama teman-teman. Tak lama kemudian, Bana kembali dan memberikan tabku, "ini lho Bas blogmu." Aku melihat layar tabku yang menampilkan blog di waktu SDku itu, aku tersenyum, menyadari keluguan tulisanku. Salah satu post-nya akan aku tampilkan di sini, aku bercerita tentang liburanku di Madura, well, mari lihat
Selagi teringat masa kini yang begitulah haha :D
I'm glad to see that post :)
"Pinjem Tabmu Bas," kata Bana, aku memberikan tab yang sedang aku pegang. "Ada apa Ban?" Tanyaku, dia pergi ke sisi lain kelasku, dan aku terus melanjutkan ngobrol bersama teman-teman. Tak lama kemudian, Bana kembali dan memberikan tabku, "ini lho Bas blogmu." Aku melihat layar tabku yang menampilkan blog di waktu SDku itu, aku tersenyum, menyadari keluguan tulisanku. Salah satu post-nya akan aku tampilkan di sini, aku bercerita tentang liburanku di Madura, well, mari lihat
Hahahaha..... Benar-benar beda! Maknyus uwwwenak banget hahaha. Wuiih besar bo'. Dan aku menulis bok dengan memakai petik pada k, menarik sekali. Aku pun menutup halaman itu, selagi teringat masa lalu, masa keluguan yang aku jalani tanpa beban.Liburan Di MaduraSaat itu saya dan Keluarga saya pergi kerumah Om Eko, Yg pakai baju kuning di foto sebelah . Aku kesana naik kapal Feri , kapal feri adalah kapal untuk menyebrangi selat, ruame banget di kapal tapi enak anginnya wuuusssssssss.........sampai deh di Rumah Om Eko.Lalu Aku ,Mas Teguh dan Kiki keponakan saya ke pantai , Pantainya keren lho tapi sayang banyak sampahnya. Setelah itu kami kembali dan Om Eko tiba2 bawa ikan besar,Wuiih besar bo' , katanya habis mancimg di laut. Yang megang ikan tuh Papaku,Setelah itu ikannya dimasak , maknyus uwwwenak banget lho rasanya membuat lidah ngebor kayak Inul. kira-kira sorean kami pulang naik feri lagi,Pemandangan dari atas kapal Indah sekali anginya berhembus keras bgt tapi segerrr.Setelah sampai ke Surabaya kami sekeluarga langsung pulang.Bakar api di perapianKena tangan mengaduh-aduhcukup sekian danterima kasih
Selagi teringat masa kini yang begitulah haha :D
I'm glad to see that post :)
Sabtu, 16 Februari 2013
Tak Tergoyahkan dari JalanNya
Keramaian
kota, mobil-mobil berbaris di jalan, menunggu gilirannya maju, klakson-klakson
dibunyikan oleh beberapa yang kalah oleh marah, sepeda motor yang menyelip
tiba-tiba di depan sebuah mobil menjadikan jalan raya sebuah arena ketegangan
tersendiri yang lebih menegangkan daripada ujian sekolah. Manusia-manusia sliwar-sliwer di trotoar, selagi
menenteng barang-barang hasil belanjanya, dengan perempuannya yang memiliki
hiasan kerlap-kerlip di lengannya, bahkan ada yang tak malu perlihatkan
auratnya (seakan berkata, “Hei, ini kecantikanku untuk siapa saja, silakan
nikmati!”), sedangkan para lelaki, banyak yang tak peduli akan pakaiannya,
seakan hanya wanita yang perlu diatur pakaiannya, dan kata-kata kotor banyak
mewarnai jalan. Bercampur semuanya menjadi satu di trotoar, bahkan ada sepasang
yang bermesra menggunakan seragam sekolahnya, lengkap dengan atribut
almamaternya.
Subhanallah, ketika mengingat bahwa
Indonesia adalah negara berjumlah penduduk muslim terbesar di dunia, kemudian
melihat kenyataan yang terjadi dalam lingkungan sekitar, ironi rasanya. Tentu
tak selayaknya sebuah negeri dengan penduduk muslim terbesar di dalamnya
terjadi fenomena-fenomena yang kering akan Islam, akan tetapi kenyataan wajib
kita terima, bagaimanapun keadaannya. Timbul sebuah pertanyaan, mampukah kita
bertahan?
Haruskah
Bertahan?
Ingat bahwa hati kita
senantiasa menjadi medan perang sebagaimana sabda Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam,
"Fitnah-fitnah itu
menempel ke dalam hati seperti tikar (yang dianyam), sebatang-sebatang. Hati
siapa yang mencintainya, niscaya timbul noktah hitam dalam hatinya. Dan hati
siapa yang mengingkarinya, niscaya timbul noktah putih di dalamnya, sehingga
menjadi dua hati (yang berbeda). (Yang satunya hati) hitam legam seperti
cangkir yang terbalik, tidak mengetahui kebaikan, tidak pula mengingkari
kemungkaran, kecuali yang dicintai oleh hawa nafsunya. (Yang satunya hati)
putih, tak ada fitnah yang membahayakannya selama masih ada langit dan
bumi." (Diriwayatkan
Muslim)
Tentu kita tak ingin hati kita
menjadi hati yang tak kenal kebaikan dan menyuburkan kemungkaran. Karena
gelapnya hati adalah modal dari segala keburukan.
"Dan apakah orang yang
sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan kami berikan kepadanya cahaya yang
terang yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat
manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang
sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya?" (Al-An'am: 122).
Lantas bagaimana kita mampu
bertahan? Tidak lain adalah dengan menambah noktah-noktah putih pada hati kita,
yang tidak lain adalah iman. Ya, imanlah yang kita butuhkan di zaman yang
sedang carut marut ini, ketiadaan iman akan mengakibatkan ketiadaan pribadi
muda karena tenggelam dalam arus dahsyat keburukan. Ketiadaan iman yang akan
membuat semua hal diterjang, mulai merokok, mencicipi minuman keras hingga
ketagihan, dan bahkan melakukan perzinahan sebelum menikah, kemudian merambah
lagi terhadap ketidakpercayaan akan keadilan Allah ketika ditimpa musibah, dan
terlupanya akan Allah ketika nikmat menerpa, maka shalat hanya ucapan, puasa
hanya menahan, maka kita saat itu bukan lagi manusia yang dicintai Allah, maka
keselamatan dari mana yang akan kita raih ketika kita tidak dicintaiNya?
Iman bertambah dan berkurang,
bertambah dengan sebab, berkurang dengan sebab pula. Apa yang membuat iman kita
mampu tumbuh subur di hati?
Pertama,
Mengenal Allah
Mengenal Allah akan Nama-nama
dan Sifat-sifatNya dan menancapkan penghayatannya di hati kita akan menumbuhkan
iman dengan sangat subur pada hati kita, sebagaimana kata seorang ulama, “Barangsiapa
semakin mengenal Allah akan semakin takut kepada Allah.” Takut akan berbuat
hal-hal nista, takut terjerumus dalam jurang maksiat.
Semisal, jika kita benar
menghayati bahwa Allah Mahabijaksana (al-Hakim), maka tentu dengan seluruh
ketentuan Allah hati kita rela dan tenang, baik ketentuan secara syari’at yaitu
aturan agama maupun secara kejadian yang terjadi di alam ini, karena kita
yakin, bahwa Allah tak akan berlaku zholim, dan seluruh ketentuanNya memiliki
hikmah yang indah.
Kedua,
Membaca Ayat-Ayat Allah
“Sesungguhnya
orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah
hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka
(karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal.” (QS. al-Anfâl [8]: 2)
Syaikh Muhammad Rasyid Ridha
berkata, “Ketahuilah bahwa kuatnya agama dan iman tidak mungkin diraih kecuali
dengan banyak membaca al-Qur’an atau mendengarkannya dengan penuh renungan dan
dengan niat untuk mengamalkan perintah dan menjauhi larangannya.”
Ketiga,
Menuntut Ilmu Syar’i
Ilmulah yang menunjukkan kita
pada kebaikan, dan menunjukkan kita akan keburukan, dan tanpa meraih ilmu itu,
kita tak akan tahu kebaikan sehingga kita tak mampu meraihnya, dan tak akan
tahu keburukan sehingga kita akan mudh terjerumus di dalamnya. Maka ilmu sangat
penting, agar kekokohan kita di Jalan Allah tetap terjaga.
Keempat,
Berteman dengan Teman yang Baik
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah
kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar(jujur)."
(QS. At Taubah: 119)
“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang
jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika
engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau
minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak
mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya
yang tidak enak.” (HR. Bukhari no. 2101, dari Abu Musa)
“Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya,
perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian”. (HR. Abu
Daud, Tirmidzi. Syaikh al-Albani mengatakan Shahih)
Mari
Kita Berjuang, Bersama!
Yakinlah, bahwa kita pemuda Islam
mampu tetap bertahan dan pancarkan sinar Islam yang menerangi kegelapan di
semesta ini, sekaligus menjadi cahaya yang menyalakan cahaya-cahaya yang lain,
hingga akhirnya kita semua kokoh dalam jalanNya, di jalan Allah Ta’ala yang
berujung ke surgaNya, yang di dalamnya terdapat ribuan nikmat yang tak
terbayang di dunia.
“Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi
(dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan
dan ucapan selamat di dalamnya, mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik
tempat menetap dan tempat kediaman” (QS. Al Furqon: 75-76)
(disalin dari http://muda.kompasiana.com/2013/02/16/tak-tergoyah-dari-jalannya-534204.html)
(disalin dari http://muda.kompasiana.com/2013/02/16/tak-tergoyah-dari-jalannya-534204.html)
Kamis, 14 Februari 2013
Renaaang Brrrrr.....
Minggu, 10 Februari 2013
Fathuuba lil-Ghurobaa'...
Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
“Sesungguhnya Islam itu datang dalam keadaan asing dan akan
kembali menjadi asing seperti ketika datangnya. Maka beruntunglah
orang-orang yang asing.”
Ada yang bertanya,
“Siapakah mereka itu wahai
Rasulullah?”.
Maka beliau menjawab,
“Yaitu orang-orang yang tetap baik
[agamanya] tatkala orang-orang lain menjadi rusak.”
(as-Shahihah no
1273 [3/267]. as-Syamilah, lihat juga Limadza ikhtartul manhaj salafi,
hal. 54)
Sabtu, 09 Februari 2013
Tangan Allah?
Seluruh penyimpangan dalam masalah nama dan sifat Allah berpangkal dari satu hal:
Menyerupakan Allah dengan makhlukNya
Langganan:
Postingan (Atom)


